“Chartause—! Ini apa chu~?”
Aku sedang tidur dengan kaki terlipat membentuk duduk sila di atas matras keras milik kami berdua. Melepaskan penat karena tak tahu harus mengerjakan apa untuk menstimulasi otak aktif ini. Mataku yang dalam tiga detik terbuka dan akan tertutup setelah detik keempat tak kunjung mau memfokuskan diri. Tatapan kosong dilemparkan oleh dua manik indahku (warnanya biru lho!! :p) ke berbagai tempat sembarangan. Tapi satu hal yang pasti kami berada di dalam sebuah kotak—box.
Bangun juga akhirnya, shironeko—kucing putih. Malam hari memang waktunya kalelawar sepertiku untuk beraktivitas, mengembangkan sayap kerenku dan terbang ke angkasa, menarik perhatian kalelawar betina. Kekekeke. Aku memang handsome, kok. *wink* Aku tahu benar, kami sedang berada di dalam sebuah box, entah siapa yang mengurung kami disini tapi aku harus berpikir smart. Tak mungkin mengandalkan otak saudari kembarku yang kerjanya hanya bisa bermain bola untuk dapat keluar dari sini, ide-idenya sangat tidak masuk akal.
Mata kami saling bertumpu dan aku dapat melihat mata Charto (Chartreuse.red) dengan jelas. Cukup tampan lumayan untuk sebangsanya. Goresan warna pada pipinya dengan bibir terjahit diantaranya memang terlihat keren, meow! Satu hal yang makin memperkuat keindahannya sebagai seorang clown. Sayapnya itu lhooooo, saudara-saudara! Aku punya buntut dengan kumis tiga pada setiap sisi, kanan dan kiri. Juga buntut yang kuhiasi dengan pita bergemerincing yang berwarna merah. Kawaii desune? XD
Apapun yang penting keluar. Entah seberapa berantakannya diriku sekarang (maklum baru bangun, biasanya rapi lho!), yang jelas tak ada yang dapat menghentikan langkahku untuk keluar dari box ini. Tidak juga si clown bat itu *melirik si setan*. BRAKK *ditimpuk*. Peduli kecebong pada dirinya.
Satu-dua-tiga!
Blaamm
Bola besar melesat dengan cepatnya nyaris mengenai tubuh si kucing kecil. Dinding sebelah utara box hancur lebur, tak tampak bahwa dinding yang sebelumnya memerangkap kami itu kokoh tak terjamah oleh kekuatan fisik. Aku menyembunyikan meriam yang tadi kusundut api di belakang punggung, tak ingin si kucing imut melihat keisenganku. Bersiul keras sambil melongok-longokkan kepala ke kanan dan kiri, berlagak innocent :-“ (ini emot siul di ym :D)
Membetulkan topi warna-warni ala clownku yang selalu mengeluarkan bunyi “cring cring” setiap kali aku bergerak. Kukepakkan sayap hitamku mendekati Charco (Charcoal.red). Bola mata topazku menatap shappirenya dengan gaya mengejek.
“Ayo keluar!”
WELCOME TO OUR WORLD